Rabu, 4 Mac 2015

Catatan Sukur Budiharjo Tentang Antologi Puisi Kembali MH370

MEMBACA ANTOLOGI PUISI DOA BUAT MH370 "KEMBALI MH370": 
MENGENANG PESAWAT YANG HILANG
 
Beberapa bulan lalu pada tahun 2014, saya memperoleh kiriman buku kumpulan puisi "Kembali MH370" dari sahabat Gabriel Kimjuan di Malaysia. Buku kumpulan puisi cetakan pertama ini diterbitkan oleh Persatuan Penulis Wilayah Persekutuan Labuan (PERWILA), dengan penyelenggara Masmah Mohd Ali, Rafidah Mohamad, dan Gabriel Kimjuan. Buku kumpulan puisi dengan ketebalan xv + 228 halaman ini diterbitkan tentunya dengan niat serius karena merupakan sebuah proyek prestisius, dengan kata sambutan oleh Ahli Parlimen Labuan, Datuk Rozman Bin Datuk Hj. Asli dan kata pengantar oleh Ketua Satu PERWILA, Prof. Madya Dr. Harun Hj. Pudin.

Antologi puisi doa buat MH370 ini memuat 136 puisi modern karya 136 penyair (penulis) dari 12 negara, yaitu Malaysia (97 puisi), Brunei Darusssalam (6 puisi), Indonesia (21 puisi), Thailand (2 puisi), Singapura (3 puisi), Jepang (1 puisi), China (1 puisi), Perancis (1 puisi), Rusia (1 puisi), Brazil (1 puisi), Jerman (1 puisi), dan Amerika Serikat (1 puisi).
Seperti dikatakan oleh Prof. Madya Dr. Harun Hj. Pudin dalam kata pengantar, buku antolologi puisi doa buat MH370 bertajuk "Kembali MH370" ini diterbitkan atas inisiatif PERWILA "untuk menyokong dan menyalurkan rasa simpati melalui karya sastera untuk mangsa (korban - penulis) dan keluarga tragedi MH370 yang berlaku (terjadi - penulis) pada 08 Mac (Maret - penulis) 2014".
Hilangnya pesawat Boeing 777, Penerbangan MAS MH370 yang lepas landas dari Bandar Udara Kuala Lumpur, Malaysia dan seharusnya mendarat di Bandar Udara Beijing, China, terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2014. Pesawat ini membawa 239 penumpang, termasuk dua bayi dan 12 awak pesawat.
Peristiwa ini tentu sangat mengerikan, menyedihkan, dan memilukan bagi siapa pun. Akan tetapi, siapa pun tak dapat memprediksi kapan datangnya musibah. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Semua telah terjadi meskipun dalam sekejap. Takdir yang telah ditetapkan oleh Illahi Robbi hanyalah dapat kita terima dengan tabah dan tawakal semata.
Peristiwa yang mengguncangkan siapa pun ini, oleh para penyair dari 12 negara diabadikan dalam untaian kata-kata, larik-larik, dan bait-bait puisi. Dari 136 puisi yang terhimpun, 132 puisi menggunakan bahasa serumpun (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand; termasuk penyair dari China, Jepang, dan Perancis) dan 4 puisi menggunakan bahasa Inggris (Brazil, Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat).
Seluruh puisi dalam antologi puisi ini menggambarkan kesedihan, melukiskan harapan, menyenandungkan doa, dan memohonkan pertolongan terkait dengan tragedi hilangnya pesawat MH370 pada hari yang naas itu. Ini seperti tampak pada puisi "Tragedi" karya Gabriel Kim, penyair dari Malaysia, berikut ini.

TRAGEDI
Kau mulakan sebuah perjalanan baru
yang begitu luas di muka bumi ini
sungguh indahnya ciptaan-Mu
memberikan hidup kepada penghuni
kau lihat bintang dan rembulan bertemu
seakan menyanyikan lagu mimpi
namun kau hilang tak ketemu
hilang jadi teka-teki
kau hilang menjadi sayu
hilang jadi tragedi
aku pasrah segala ketentuan-Mu
lautan menjadi saksi
menjadi tanda segala yang berlaku
membuat manusia masih mencari-cari
di mana kubur itu?
sungguh hebat kuasa Illahi
menjadikan tragedi sejarah baru
hilang entah bila dapat ditemui
insan yang ada di situ
adalah insan yang paling dirindui
aku mohon doa dan restu-Mu
agar kembalikanlah jasad-jasad hati
yang selama ini aku menunggu
sebuah kepulangan yang tak kembali
hanya doa diiringi pilu
kisah sebuah tragedi ini
akan kucoretkan dalam bait-bait puisiku
agar menjadi kenangan setiap generasi
Upaya pencarian terhadap pesawat pun dilakukan secara habis-habisan. Doa senantiasa dipanjatkan. Doa berisi harapan agar pesawat MH370 dapat kembali (atau ditemukan), tampak pada puisi "Doa untuk MH370" karya Phaosan Jehwae, penyair dari Thailand, berikut ini.

DOA UNTUK MH370
Di pagi hening sang surya
embun putih bergelisahan
terdengar duka saudara kembarku
kehilangan sayap di awan luas
dengan ratusan jiwa manusia
entah apa yang menimpa
tanpa tanda tanpa raga
manusia berarak untuk mencari
di bumi gersang
di laut pasang
di pulau mayang
semua alat dipasang
teknologi ciptaan diguna
beribu pakar digerak
berjuta duit dihabis
masih bertanya-tanya
tanda masih alpa
bukti masih disemu
wahai burung MH370
yang bersayap gagah
yang berjiwa wira.
Ke mana hilangmu?
ke mana pergimu?
keluargamu masih berharap
rintisan air mata duka
jutaan doa seluruh dunia
Patani turut terhiris
hanya doa kami hampar
dukamu sakitku juga
semoga burung MH370
segera kembali
aku memohon.
Penggambaran momen pesawat lepas landas, terbang di udara, dan jatuhnya pesawat -- yang hingga kini masih menjadi misteri karena tidak diketahui di mana rimba MH370 -- ditorehkan ke dalam larik-larik dan bait-bait puisi "Kotak Hitam Pesawat Cinta" oleh penyair Syukur Budiardjo (Sukur Budiharjo) dari Indonesia. Berikut ini puisi tersebut selengkapnya.

KOTAK HITAM PESAWAT CINTA
Pesawat cinta tinggal landas tembus angkasa
terbang bersama mimpi dan asa
pilot, kopilot, teknisi, dan penumpang nanar
arungi samudera luas menghampar
pesawat terbang di atas belantara semesta
membawa tawa, senyum, juga derita
tak tahu ke mana pesawat akan mendarat
karena diliputi teka-teki berkarat
pesawat cinta tinggal landas tembus angkasa
terbang bersama mimpi dan asa.
Pesawat cinta mendengung murung di balik awan
menjelajah gundah bersama hati yang rawan
dipeluk rinu yang dingin di angkasa raya
berkelana di antara dunia nyata dan maya
dibelai sansai yang terjal menggumpal
pesawat melanglang tembus seribu aral
di atas daratan dan lautan yang rimbun
pesawat mengerang diliputi ngungun
pesawat cinta mendengung murung di balik awan
menjelajah gundah bersama hati yang rawan.
Pesawat cinta menukik tajam ke lautan misteri
berdebum, berkeping, tak berbentuk lagi
kotak hitam teronggok diam, lalu terdengar
bersuara lirih, lamat-lamat berujar
halo, sayang, mama, pak, bagaimana, aduh,
tolong, dengarkan, lho, terus, jatuh,
terus, jtuh, lho, halo, pak, bagaimana,
aduh, dengarkan, tolong, sayang, mama
pesawat cinta menukik tajam ke lautan miteri
berdebum, berkeping, tak berbentuk lagi.
Demikianlah. Hingga kini MH370 tak kunjung jua ditemukan. Kita tak tahu di mana rimbanya. Semuanya masih diliputi teka-teki dan spekulasi. Akan tetapi, kita masih dapat menemukan jejak dan langkahnya melalui buku antologi puisi "Kembali MH370". Semuanya terekam di dalam buku kumpulan puisi ini. Hingga seluruh warga dunia akan mengenangnya. Meski di dalam doa.

Sukur Budiharjo
Cibinong, 3 Maret 2015

Tiada ulasan:

PERWILA

Persatuan Penulis Wilayah Persekutuan Labuan (PERWILA) ditubuhkan pada 18 Mei 1985. Persatuan ini dianggotai oleh budayawan, penulis, peminat sastera dan bahasa yang bermastautin di wilayah ini.

Yuran seumur hidup hanya RM50.00 dan pendaftaran RM2.00 sahaja. Keahlian masih terbuka, sila hubungi:

Ketua Satu,

Tuan Haji Othman Mahali

Kios HOM Enterprise, No 1,
Terminal Ferry Antarabangsa,
Wilayah Persekutuan Labuan (016-8321065)

Ketua Dua,

Saudara Sahar Misron

SMK Pantai W.P Labuan (012-9128609)



AJK PERWILA 2015/2017

AJK PERWILA 2015/2017